Memahami Pesan Tersembunyi, Dibalik Maksud Kunjungan Taliban ke PBNU

Memahami Pesan Tersembunyi, Dibalik Maksud Kunjungan Taliban ke PBNU

02 Agu 2019 | Dilihat 73 Kali | Sumber https://www.facebook.com/abdullah.roid98 | Oleh Admin ID Muslim


 Memahami Pesan Tersembunyi, Dibalik Maksud Kunjungan Taliban ke PBNU Foto [ Oleh :Elhakimi ]

Baca Juga : China Perintahkan Restoran Halal Beijing Cabut Simbol Islam


Rombongan delegasi Taliban melanjutkan lawatannya ke PBNU pada Selasa, 30 Juli 2019. Diterima langsung oleh ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj beserta jajaran pimpinan. Kedua pihak terlibat perbincangan konstruktif untuk mencari solusi konflik di Afghanistan.

Pertemuan ini menjadi perdebatan di kalangan aktifis Islam. Ada yang memuji gaya diplomasi Taliban sebagai langkah cerdas, bijak dan dewasa. Ada yang mencaci sebagai kemunafikan Taliban, misalnya dari kalangan ISIS-er. Ada yang bingung. Ada yang biasa saja.

Maka penting untuk mencoba memahami apa yang menjadi misi Taliban dalam kunjungan ini. Agar dengan itu kita bisa bersikap dengan lebih adil dan bijaksana, tidak asal bunyi.

Taliban fokus memenangkan Islam dan umat Islam. Misi ini dipatok harga mati. Sementara tanah Afghanistan hanya wadah untuk mencapai misi itu, karenanya tidak dijadikan ideologi sakral – nasionalisme Afghanistan. Meski saat ini konsentrasinya memastikan tanah Afghan merdeka dari penjajah kafir dan bisa dilaksanakan syariat dengan sempurna tanpa intervensi.

Taliban sadar bahwa musuh yang saat ini dihadapi adalah kekuatan terbesar dunia – Amerika. Belum lagi dukungan negara-negara lain yang menjadi mitra koalisi Amerika, seperti Eropa, Australia dan banyak negara yang mayoritas muslim. Mengusir Amerika dan sekutunya dari tanah Afghan bukan pekerjaan ringan, dan siapapun tahu itu. Perang sudah berlangsung selama 18 tahun, hingga kini Amerika belum juga pergi.

Meski semua orang tahu bahwa Amerika sudah melemah dibanding sebelumnya, tapi ia tetaplah negara terkuat saat ini – 2019. Tak bisa dipungkiri. Baik secara militer, politik dan ekonomi. Sebaliknya, semua orang juga tahu bahwa Taliban tidak melemah, tapi makin kuat dan berpotensi memenangkan perang dalam waktu dekat – insyaallah dengan izin Allah.

Tapi Taliban sebagai sebuah gerakan yang matang karena dibimbing ilmu dengan ketat – tercermin dari nama Taliban, santri atau pelajar – tidak mau jumawa. Sejarah mencatat, umat Islam justru nyaris kalah dalam perang Hunain karena sudah mulai muncul kebanggaan jumlah pasukan. Maka Taliban tidak mau hanya mengandalkan kekuatan militer. Sebab bagaimanapun upaya-upaya penguatan diri melalui diplomasi dan politik terbukti sangat menunjang keberhasilan perjuangan.

Hubungan militer dengan politik seperti baku pukul di ring tinju dengan penganugerahan sabuk juara. Baku pukul di ring itu pertarungan militer. Penyematan sabuk juara itu kemenangan politik, sebab kemenangannya di ring tinju diakui musuh dan juri yang netral. Inilah kemenangan sempurna, karena menang secara kekuatan dan menang secara legitimasi politik.

Taliban sudah memainkan 11 ronde baku pukul di medan perang melawan Amerika. Musuh sudah mulai terhuyung. Tinggal menyelesaikan 1 ronde lagi. Tapi masih dimungkinkan musuh melakukan makar dengan membuat kekacauan di arena pertandingan, sehingga pertandingan dihentikan lalu menjadi tidak jelas siapa yang diakui sebagai pemenang. Pengumuman pemenang batal, penyematan sabuk juara juga batal. Secara militer menang, tapi secara politik gagal.

Tanda pengakuan kemenangan Taliban sudah mulai tampak. Dengan adanya perundingan sejajar dan langsung antara pemerintah Amerika dengan Taliban, sejak awal 2019. Maknanya, Amerika secara tersirat telah mengakui Taliban sebagai goverment dan punya teritorial de facto, bukan lagi gerombolan teroris yang tidak jelas wujud dan wilayahnya.

Taliban menghadapi kenyataan bahwa nyaris seluruh penduduk bumi membenci dirinya, baik muslim apalagi non muslim. Ini kekalahan politik Taliban, sebaliknya merupakan kemenangan politik bagi Amerika yang sejak awal menyematkan stigma teroris kepada Taliban. Wajar, seluruh negara di bawah pengaruh Amerika. Apapun yang diopinikan Amerika akan diikuti oleh seluruh warga dunia. Taliban diopinikan sebagai gerombolan penjahat yang barbar kepada siapapun, sehingga tak layak mendapat tempat di muka bumi. Pada gilirannya, tak boleh mendapat kemerdekaan. Tentu saja, ini menjadi ganjalan politik yang harus diatasi Taliban.

Maknanya, Amerika memang hampir kalah secara militer. Tapi ia masih menang secara opini (politik). Sebaliknya, Taliban hampir menang secara militer, tapi masih kalah dalam hal opini publik dunia terhadapnya. Jika ini dibiarkan, boleh jadi kemenangan militer akan menjadi sia-sia karena terlambat membungkusnya dengan kemasan politik yang baik. Wal-‘iyadzu billah.

Taliban mencoba memetakan masalah. Bahwa negara-negara di dunia hanya ada dua kemungkinan; pertama, pro Amerika dan membenci Taliban, kedua, netral. Netral di sini juga bukan netral sepenuhnya, sebab hegemoni Amerika kepada seluruh negara tak bisa dibantah, hanya saja masih menunjukkan netralitas kepada Taliban. Rasanya saat ini tidak ada satu negarapun yang secara terbuka menyatakan pro Taliban.

Contoh negara netral di mata Taliban itu Qatar dan Indonesia. Qatar sejak awal dijadikan kantor biro politik oleh Taliban. Sementara Indonesia sejak dahulu dikenal non blok, meski dulu dalam konteks Amerika vs Uni Sovyet. Indonesia dihuni mayoritas muslim dan tak punya kepentingan khusus dengan tanah Afghan atau Taliban.

Maka Indonesia mendapat prioritas kunjungan. Taliban ingin menghilangkan stigma teroris yang sejak lama disematkan Amerika kepada Taliban. Sebagai bagian dari perang opini. Perang politik. Taliban ingin mengalahkan opini yang ditembakkan Amerika kepada dirinya, setidaknya di tengah publik Indonesia.

Dalam konteks ini, kunjungan kepada PBNU menjadi penting. Dari semua ormas atau kelompok Islam yang eksis di negeri ini, NU dikenal memiliki penolakan paling keras terhadap Islamis yang berbau radikal – dan Taliban dianggap nomor wahid pada level global. Selain karena NU menjadi tulang punggung kekuasaan. Juga karena NU paling openmind terhadap non muslim, termasuk Amerika.

Maka kunjungan Taliban kepada PBNU menjadi langkah politik yang cerdas, bijak, dewasa dan berwawasan masa depan. Beginilah semestinya gerakan jihad menampilkan dirinya. Bisa bergaul secara politik diplomatik dengan semua kalangan, tapi bisa sangat mematikan di medan perang. Ada bagian yang diberi harga mati tak bisa ditawar, ada bagian yang bisa dikomunikasikan dengan siapapun. Bukan seperti ISIS yang kaku semua hal diberi harga mati.

Taliban menyapa NU untuk menegaskan kepada publik bahwa Taliban hanya radikal kepada Amerika, sama sekali tidak radikal kepada umat Islam. Itupun karena Amerika berlaku zalim kepada dunia, khususnya umat Islam. Persahabatan dengan NU yang dikenal berseberangan dengan Taliban, dapat ditafsiri – dengan NU saja bersahabat apalagi dengan yang lain. Hal ini mengingat NU paling anti dengan praktek Islam ala Taliban dibanding komunitas lain.

Tentu ada maksud lain bagi Taliban. NU sebagai tulang punggung kekuasaan, diharapkan memberi dorongan kepada pemerintah untuk membantu Taliban dan Afghanistan secara umum untuk memperoleh kemerdekaan dan kedamaian. Taliban ingin memberikan klarifikasi dan menyampaikan kondisi faktual di lapangan kepada PBNU agar tidak salah paham. Taliban ingin menepis bisikan-bisikan tidak benar yang masuk ke telinga PBNU sehingga merugikan dirinya. Karena suara NU selalu dianggap sebagai barometer suara pemerintah dalam isu-isu keislaman. Menyapa Indonesia harus satu paket menyapa NU.

Kunjungan ini bisa dimaknai sebagai peperangan antara Taliban vs Amerika di medan lain – medan politik. Amerika melihat NU punya bobot strategis. NU paling openmind terhadap non muslim, bisa disapa Amerika untuk menghadang Taliban. Meski sapaan itu boleh jadi tidak langsung. Sebaliknya, Taliban melihat NU bagaimanapun masih terikat persaudaraan Islam, maka layak disapa untuk menyokong Taliban dan menghadang Amerika yang kafir. Ini menjadi perebutan wala’. Dan PBNU diuji, apakah wala’-nya lebih pro kepada Taliban atau kepada Amerika. Atau istiqamah dalam netralitasnya. Hanya Allah yang tahu. Loby politik selalu susah dipastikan hasilnya, hanya bisa ditebak kalkulasinya.

Selamat berjuang Taliban – di medan politik global. Semoga perjalananmu dimudahkan Allah.

والله أعلم بالصواب

@elhakimi – 31072019


| Sahabat muslim, mari berdakwah bersama kami untuk informasi lebih lanjut silakan KLIK DISINI


China Perintahkan Restoran Halal Beijing Cabut Simbol Islam
  • China Perintahkan Restoran Halal Beijing Cabut Simbol Islam

    Kamis, | Oleh Admin ID Muslim | Lihat 70 Kali


  • KHANNAS dalam Al-Quran Pembisik Kejahatan dan Maksiat
  • KHANNAS dalam Al-Quran Pembisik Kejahatan dan Maksiat

    Selasa, | Oleh Admin ID Muslim | Lihat 73 Kali


  • Bandara Diminta Disetop Saat Idul Fitri, Ini Pernyataan Angkasa Pura
  • Bandara Diminta Disetop Saat Idul Fitri, Ini Pernyataan Angkasa Pura

    Selasa, | Oleh Admin ID Muslim | Lihat 67 Kali


  • Makna Kehadiran Taliban di Jakarta
  • Makna Kehadiran Taliban di Jakarta

    Selasa, | Oleh Admin ID Muslim | Lihat 104 Kali