Bulan Suci Ramadhan Merupakan Bulan Diturunkannya Semua Kitab Allah
Oleh : Mederator | Sabtu - 19 Mei 2018 | Sumber : -

Bulan Suci Ramadhan Merupakan Bulan Diturunkannya Semua Kitab Allah

Bulan Ramadhan pantaslah dikatakan “bulan suci”, bulan penuh berkah, bulan evaluasi (introsfeksi), bulan kesabaran, bulan kasih sayang, bulan cinta, bulan dimana sepantasnya kita menarik energy positif didalamnya agar kita bertakwa. Karena semua Kitabullah diturunkan Allah Swt pada bulan Ramadhan ini. Begitupula AlQuran telah diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan. Lalu diturunkan berangsur-angsur menurut kejadiannya dalam masa kurang lebih 23 tahun. Selain itu, Nabi Ibrahim As. Telah menerima shuhufnya (kitab suci) pada tanggal 1 atau 3 Ramadhan. Nabi Daud As. menerima Zabur pada tanggal 18 atau 12 Ramadhan. Nabi Musa As. menerima Taurat pada hari ke-6 bulan Ramadhan, Nabi Isa As. menerima Injil pada hari ke-12 atau ke-13 bulan Ramadhan. Allah Swt. menyanjung bulan Ramadhan diatas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana kesemua kitab-kitab suci diturunkan di dalamnya.

Kitab Allāh adalah catatan yang difirmankan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul. Umat Islam diwajibkan meyakininya, karena mempercayai kitab-kitab selain Al Qur'an sesuai dengan salah satu Rukun Iman. Dalam firman Allah ayat Al Imraan “ Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Al Imran [3]4)

Kemudian firman Allah QS. An Nissa [4] ayat 136 dan 163:

“ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. ” (An Nissa [4]:136)

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An Nissa [4]:163)

Tulisan-tulisan firman Allah zaman dahulu dibuat menjadi 2 jenis, yaitu bisa berupa shuhuf (lembaran kecil) dan mushaf. Kata Suhuf pula terdapat di surah Al A'laa “ (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (al A'laa [87]:19)

Dari sini dapat diketahui adanya hubungan yang erat antara kitab-kitab Allah dengan Ramadhan. Oleh karena itu, sebagai muslim hendaknya kita membaca Al Quran sebanyak mungkin pada bulan ini. Demikianlah kebiasaan para waliyullah. Jibril As. pun membacakan seluruh Al Quran kepada Nabi Muhammad Saw. pada bulan Ramadhan. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Saw yang membaca dan Jibril As mendengarkannya.

Al-Qur`an merupakan kumpulan firman yang diberikan Allah sebagai satu kesatuan kitab sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat muslim. Menurut syariat Islam, kitab ini dinyatakan sebagai kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, selalu terjaga dari kesalahan, dan merupakan tuntunan membentuk ketaqwaan manusia. Pada bulan suci Ramadhan ini, kita banyak diingatkan tentang Al Quran,karena pada bulan ini Al Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana dalam Al Quran Allah Swt. berfirman;“ Pada bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah[2] 185)

Sehingga memilih Ramadhan sebagai momentum untuk menurunkan petunjuk-Nya. Al Quran yang turun berangsur-angsur mulai Mekkah sampai Medinah memberikan kerangka yang jelas bagi umat manusia. Merupakan way of life yang dikehendaki oleh-Nya.

Disampaikan melalui malaikat jibril secara utuh kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian diajarkan secara utuh kepada ummat Islam. Al-Quran merupakan kitab stilistika Arab yang sakral, dibuat sebagai pedoman dan tuntunan bagi ummat manusia dalam menata kehidupannya. Agar memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat.

Tampilan Al-Qur`an dianggap unik, karena berupa prosa berirama, puisi epik, dan simfoni dalam keterpaduan teks yang indah. Isi Al-Qur`an juga dianggap unik, berupa paduan filsafat semesta, catatan sejarah, peringatan-peringatan dan hiburan, dasar-dasar hukum, serta doa-doa.

Bulan Ramadhan juga adalah sarana lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. (taqarrub ila’ Allah), yang juga bermuara pada keterikatan dengan syariah Islam agar kita bertakwa. Ketakwaan merupakan harapan yang muncul dari pelaksanaan puasa (shaum) ini.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Swt. dalam Al Quran; “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS Al Baqarah [2]183).

Inti takwa adalah ketaatan dan sikap hati-hati; taat untuk menjalankan segala perkara yang Allah perintahkan; hati-hati, penuh khawatir dan senantiasa waspada (awas), kalau setiap perbuatan yang kita lakukan atau kita tinggalkan akan mengantarkan kita pada siksa Allah Swt. Agar bertakwa seseorang harus selalu terikat dengan syariah Allah Swt. Itulah ketakwaan sejati.

Karena itu, Al Quran jelas bukan sekedar untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan pedoman hidup yang harus diamalkan. Bersama As Sunnah (Hadits), Al Quran adalah sumber hukum syariah Islam. Karena itu, lagi-lagi muaranya adalah terikat dengan syariah Islam.

Karena itu, bulan Ramadhan sudah seharusnya lebih memperkokoh lagi perjuangan syariah Islam. Sungguh dipertanyakan muslim yang shaum (puasa) pada bulan Ramadhan tetapi tidak mau tunduk pada syariah Islam. Dipertanyakan juga yang banyak membaca Al Quran pada bulan Ramadhan, mengatakan Al Quran sebagai pedoman hidup, namun tidak mau diatur oleh syariah Islam yang bersumber dari Al Quran.

Salah satu yang dikhawatirkan Rasulullah Saw, dari shaum kaum mislim adalah jika terjebak pada rutinitas formal; sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, seperti makan dan minum. Dalam hal ini, menarik dicermati hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah dan Ath-Thabrani dan Ibnu Umar, Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, hasil yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan hausnya saja”.

Mari coba evaluasi puasa (shaum) kita saat ini. Dengan berat hati kita harus mengatakan shaum kita belum banyak membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat kita, apalagi membangkitkan masyarakat. Telah berapa kali Ramadhan kita lewati, umat tetap diliputi oleh berbagai persoalan berat seperti; kemiskinan, pengangguran, kebodohan, konflik, kemunafikan, korupsi merajalela yang sudah tidak terkontrol lagi dan malah nampak bangga sebagai koruptor, pecandu narkoba, dlsb.

Puasa Ramadahn seharusnya menjadi energy positif yang didorong oleh kekuatan ruhaniah untuk berbuat banyak bagi perubahan masyarakat kearah yang lebih baik. Sebagaimana ibadah lainnya, shaum seharusnya lebih mendekatkan diri manusia kepada Allah Swt. Serta mari dalam bulan ramadhan iniserta bulan-bulan selanjutnya mengisinya dengan perubahan kearah yang lebih sejahtera dan bersemangat dalam perjuangan dengan selalu mendekatkan diri dengan Allah Swt. Amin


| Sahabat muslim, mari berdakwah bersama kami untuk informasi lebih lanjut silakan KLIK DISINI


Tampilkan Semua Komentar

Buat Komentar