Terdapat 40 Hadits Tentang Pemimpin dan Penjelasanya - Bagian 4
Rujukan : islamislogic.wordpress*com

By Mederator 26 Apr 2018 Hadist
Terdapat 40 Hadits Tentang Pemimpin dan Penjelasanya - Bagian 4

Masuk kehalam Sebelumnya ( Hadis 21 sampai dengan Hadis 30 )

Hadis ke 31

Keputusan pemimpin harus aspiratif

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู‡ูŽู†ู‘ูŽุงุฏูŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุญูุณูŽูŠู’ู†ูŒ ุงู„ู’ุฌูุนู’ูููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฒูŽุงุฆูุฏูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูู…ูŽุงูƒู ุจู’ู†ู ุญูŽุฑู’ุจู ุนูŽู†ู’ ุญูŽู†ูŽุดู ุนูŽู†ู’ ุนูŽู„ููŠู‘ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุชูŽู‚ูŽุงุถูŽู‰ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุถู ู„ูู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุณู’ู…ูŽุนูŽ ูƒูŽู„ูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ููŽุณูŽูˆู’ููŽ ุชูŽุฏู’ุฑููŠ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽู‚ู’ุถููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ูŒ ููŽู…ูŽุง ุฒูู„ู’ุชู ู‚ูŽุงุถููŠู‹ุง ุจูŽุนู’ุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ

Apabila ada dua orang laki-laki yang meminta keputusan kepadamu maka janganlah engkau memberikan keputusan kepada laki-laki yang pertama sampai engkau mendengarkan pernyataan dari laki-laki yang kedua. Maka engkau akan tahu bagaimana enkau memberikan keputusan (hr. Turmudzi)

Hadis ini mengajarkan kita sebuah kepemimpinan yang mau mendengar semua suara rakyat. Tidak peduli rakyat itu pengemis, pemulung, orang penyandang cacat, perempuan, atau anak kecil sekalipun, maka semua itu harus didengar suaranya oleh pemimpin. Artinya, kepemimpinan itu, atau lebih tepatnya seorang pemimpin itu harus benar-benar aspiratif. Karena bila kita dalam mengambil keputusan atau kebijakan hanya berdasarkan suara kelompok tertentu, lebih-lebih suara kelompok yang dekat dengan lingkungan kekuasaan (pemimpin) maka keputusan itu pasti akan jauh dari rasa keadilan. Alasannya adalah karena suara satu kelompok itu belum tentu mewakili suara kelompok yang lain. Sehingga bila ingin mencapai rasa keadilan bagi eluruh rakyat, maka harus mendengar suara semua rakyat.

Hadis ini penting terutama dalam konteks sistem demokrasi yang meniscayakan keterwakilan seperti di indoensia misalkan. Dimana dpr (dewan perwakilan rakyat) memiliki wewenang untuk mewakili suara rakyat. Bila dpr ini tidak menjaring aspirasi dari semua lapisan dan status masyarakat, maka jangan harap kebijakan-kebijakan yang dihasilakannya akan memenuhi rasa keadilan rakyat indonesia. Oleh sebab itu, agar rasa keadilan dalam sebuah masyarakat itu benar-bnar terpenuhi, maka islam mewajibkan seorang pemimpin untuk tidak mengambil keputusan hanya dari satu orang (satu kelompok suara), tetapi lebih dari itu.

Hadis ke 32

Pemimpin dituntut berijtihad

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุญูุณูŽูŠู’ู†ู ุจู’ู†ู ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠู‘ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฒู‘ูŽุงู‚ู ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนู’ู…ูŽุฑูŒ ุนูŽู†ู’ ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุญูŽุฒู’ู…ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุญูŽูƒูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู ููŽุงุฌู’ุชูŽู‡ูŽุฏูŽ ููŽุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูŽุงู†ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุญูŽูƒูŽู…ูŽ ููŽุฃูŽุฎู’ุทูŽุฃูŽ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุงุจ ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงุตู ูˆูŽุนูู‚ู’ุจูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุงู…ูุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ ุบูŽุฑููŠุจูŒ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ู„ูŽุง ู†ูŽุนู’ุฑูููู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑููŠู‘ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฒู‘ูŽุงู‚ู ุนูŽู†ู’ ู…ูŽุนู’ู…ูŽุฑู ุนูŽู†ู’ ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู

Apabila seorang hakim melakukan ijtihad dan kemudian benar maka dia mendapat dua pahala, dan apabila dia berijtihad ternyata salah maka dia hanya mendapat satu pahala

Hadis ini memang bercerita tentang kewenagan hakim. Namun sejatinya, hadis ini bukan saja ditujukan kepada seorang hakim, melainkan lebih dari itu juga untuk seorang pemimpin. Pada masa rasul s.a.w. Jabatan hakim dan pemimpin politik tidak dibedakan. Nabi muhammad sendiri adalah seorang pemimpin politik tapi sekaligus juga seorang hakim. Demikian juga dengan para khalifah pengganti beliau sesudahnya (khulafa urrasyidin) yang menjabat pemimpin sekaligus hakim dan bahkan panglima perang. Oleh sebab itu, bila merujuk pada konteks di atas, maka hadis ini tentunya bukan hanya relevan untuk para hakim tetapi juga dianjurkan untuk para pemimpin (politik).

Apabila dikaitkan dengan konteks pemimpin politik, maka yang dimaksud ijtihad di sini adalah bisa berupa sebuah upaya politik seorang pemimpin dalam mengeluarkan keputusan yang berdasarkan konstitusi dan nilai-nilai kemanusiaan serta kesejahteraan rakyat. Artinya, seorang pemimpin dituntut bekerja keras semaksimal mungkin, tentunya berdasarkan ikhtiar politiknya, untuk berupaya menjadikan rakyatnya terangkat dari garis kemiskinan serta memenuhi standar kesejahteraan. Bila ikhtiar politik pemimpin ini benar dan berhasil mensejahteraakan rakyatnya, maka dia akan mendapat dua pahala, akan tetapi bila ikhtiar dia salah dan rakyat tetap berada di bawah garis kemiskinan, maka dia akan mendapat satu pahala. Tentunya ikhtiar ini harus benar-benar dilandasi oleh ketulusan dan niat baik untuk mengabdi kepada rakyat, bukan semata-mata mencari keuntungan politik tertentu. Bila yang terakhir ini yang dilakukan, maka bukan hanya satu pahala yang didapat, melainkan justru akan mendapat celaka dan siksa dari allah swt.

Hadis ke 33

Pemimpin harus punya pedoman kepemimpinan

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู‡ูŽู†ู‘ูŽุงุฏูŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ูˆูŽูƒููŠุนูŒ ุนูŽู†ู’ ุดูุนู’ุจูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุงู„ุซู‘ูŽู‚ูŽูููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽุงุฑูุซู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุนูŽู†ู’ ุฑูุฌูŽุงู„ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ู…ูุนูŽุงุฐู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽุนูŽุซูŽ ู…ูุนูŽุงุฐู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูŽู…ูŽู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽู‚ู’ุถููŠ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู‚ู’ุถููŠ ุจูู…ูŽุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุจูุณูู†ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠ ุณูู†ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฌู’ุชูŽู‡ูุฏู ุฑูŽุฃู’ูŠููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูˆูŽูู‘ูŽู‚ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุจูŽุดู‘ูŽุงุฑู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑู ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠู‘ู ู‚ูŽุงู„ูŽุง ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุดูุนู’ุจูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽุงุฑูุซู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุฎู ู„ูู„ู’ู…ูุบููŠุฑูŽุฉู ุจู’ู†ู ุดูุนู’ุจูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูู†ูŽุงุณู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุญูู…ู’ุตู ุนูŽู†ู’ ู…ูุนูŽุงุฐู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽุญู’ูˆูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ู„ูŽุง ู†ูŽุนู’ุฑูููู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏูู‡ู ุนูู†ู’ุฏููŠ ุจูู…ูุชู‘ูŽุตูู„ู ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุนูŽูˆู’ู†ู ุงู„ุซู‘ูŽู‚ูŽูููŠู‘ู ุงุณู’ู…ูู‡ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Ketika rasul mengutus mu’adz ke yaman, beliau bertanya: wahai mu’adz, bagaimana caramu memberikan putusan/hukum? Dia menjawab; aku memutuskan/menghukumi berdasarkan ketentuan dari al-qur’an. Lalu rasul bertanya lagi: bagaimana kalau tidak ada dalam al-quran? Mu’adz menjawab, maka aku memutuskan berdasarkan sunnah rasul s.a.w. Rasul bertanya lagi: bagaimana bila tidak kau temukan dalam sunnah rasul ? Mu’adz menjawab: maka aku berijtihad berdasarkan pendapatku sendiri. Rasul bersabda: segala puji bagi allah yang telah memberikan petunjuk/taufik kepada duta rasul saw

Hadis ini turun ketika salah seorang sahabat rasul s.a.w, mu’adz bin jabal, hendak diutus rasul untuk menjadi gubernur di yaman. Namun sebelum mu’adz berangkat ke yaman, rasul terlebih dahulu memanggilnya untuk di uji (fit and propertest) sejauh mana dia bisa diandalkan menjadi gebernur. Akan tetapi materi test yang disampaikan rasul tidak muluk-muluk, beliau hanya menanyakan tentang pedoman dia (mu’adz) dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Dalam pengakuan mu’adz, dia akan menjalankan roda kepemimpinanya sebagai gubernur yaman dengan berlandaskan pada al-qur’an, sunnah, dan ijtihad (berpikir dan bekerja keras). Untuk jawaban yang pertama dan kedua, rasul mungkin sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan mu’adz, akan tetapi untuk pertanyaan ketiga itulah rasul mencoba menggali sejauh mana upaya mu’adz bila sebuah keputusan tidak ada dasarnya dalam al-qur’an dan sunnah. Dan ternyata nabi cukup bangga kepada mu’adz karena dia bisa menjawab pertanyaan ketiga itu dengan cukup memuaskan.

Ini artinya bahwa hadis di atas telah memberikan isyarat kepada kita bahwa dalam menjalankan roda kepemimpinan kita tidak bisa hanya mengandalkan pedoman al-qur’an dan sunnah, akan tetapi kita juga harus pandai-pandai mencari alternatif pedoman yang lain yang bisa mengilhami kita dalam mengeluarkan keputusan. Bukannya kita hendak mengatakan bahwa al-qur’an dan sunnah tidak sempurna, akan tetapi untuk merespon semua peristiwa yang terjadi di dunia ini kita dituntut untuk mencari dan mencari segala macam alternatif solusinya. Apabila kita tidak menemukan dasarnya di al-qur’an dan sunnah, mungkin kita bisa mencarinya di nilai-nilai kearifan lokal yang telah tumbuh dan berkembang di dalam sebuah masyarakat. Karena itulah kita juga mengenal apa yang oleh para ahli ushul fiqh dikenal dengan ‘urf atau kaidah fiqh yang berbunyi al-‘adah muhakkamah. Bahkan rasul pun pernah bersabda: bila engkau menemukan kebijakan maka ambillah meski ia keluar dari mulut anjing.

Hadis ke 34

Good and clean governance dalam Islam

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ู‚ูุฏู‘ููˆุณู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ุงู„ู’ุนูŽุทู‘ูŽุงุฑู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุนูŽุงุตูู…ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽุทู‘ูŽุงู†ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฅูุณู’ุญูŽู‚ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุจูŽุงู†ููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฃูŽูˆู’ููŽู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฑู’ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุฑูŽ ุชูŽุฎูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฒูู…ูŽู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ ุบูŽุฑููŠุจูŒ ู„ูŽุง ู†ูŽุนู’ุฑูููู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุทู‘ูŽุงู†ู

Rasul bersabda sesungguhnya allah senantiasa bersama dengan hakim/qodi sepanjang dia tidak menyeleweng. Kalau dia sudah menyeleweng maka allah akan menjauh darinya, dan syetan menjadi temannya.

Selain islam mengajarkan pentingnya prinsip keadilan dalam sebuah kepemimpinan, islam juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang bersih. Secara substansial, keduanya memang tidak ada perbedaan yang berarti, bahkan bila seorang pemimpin sudah berbuat adil, maka bisa dikatakan kepemimpinannya sudah bersih. Karena keadilan merupakan forndasi dan perilaku bersih adalah dindingnya. Jadi meski fondasinya kuat namun bila tidak ditopang oleh dinding yang juga kuat, maka bangunagan itu mudah roboh oleh “goyangan-goyangan” dari pihak luar. Oleh sebab itu, yang satu tidak bisa mengabaikan yang lain, bahkan harus saling menopang antara keduanya.

lantas bagaimana yang dimaksud dengan kepemimpinan yang bersih di dalam hadis ini? Yang dimaksud kepemimpinan yang besih adalah sebuah sistem kepemimpinan yang tidak “dinodai” oleh perilaku-perilaku menyeleweng dari pemimpinanya. Wujud konkrit dari perilaku menyeleweng ini adalah seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu, pemimpin juga dituntut harus menjaga “kebersihan” moralnya. Sehingga yang dimaksud bersih kemudian bukan saja menyangkut perilaku sosial melainkan juga perilaku individual.

sedangkan dalam konteks kepemimpinan politik kontemporer, kita mengenal istilah yang disebut “clean and good governance”. Istilah ini sebenarnya mengandung konsep dasar bahwa sebuah kepemimpinan itu harus baik dan bersih, terutama bersih dari korupsi dan modus-modus penyelewengan yang lain. Sehingga untuk mencapai sebuah kepemimpinan seperti itu diperlukan kesetaraan peran antara negara (pemerintah), pasar dan rakyat yang salah satu di antara ketiganya tidak boleh ada yang mendominasi. Karena bila peran negara terlalu kuat atau dominan maka akan menimbulakn hegemoni dan cenderung totaliter, sedangkan bila peran pasar (swasta) yang terlalu dominan, maka semua kehidupan rakyat akan diatur dengan modal atau pemilki modal. Bila seseorang tidak punya modal, maka dia tidak punya posisi tawar yang kuat. Sementara bila kedua instutusi di atas terlalu lemah, dan rakyat begitu kuatnya, maka chaos atau kekacauan yang akan menghantui sebuah negara. Oleh sebab itu, kembali pada hadis di atas, bahwa tindakatan kotor seperti penyelewengan kekuasaan adalah tindakan yang sangat dikutuk dalam islam. Dan sebaliknya, pemerintahan yang baik dan bersih justru sangat ditekankan dan dijamin pasti akan dilindungi oleh allah.swt.

Hadis ke 35

Pemimpin harus peka terhadap Kebutuhan rakyat

ู‚ูŽุงู„ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ู…ูุฑู‘ูŽุฉูŽ ู„ูู…ูุนูŽุงูˆููŠูŽุฉูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฅูู…ูŽุงู…ู ูŠูุบู’ู„ูู‚ู ุจูŽุงุจูŽู‡ู ุฏููˆู†ูŽ ุฐูŽูˆููŠ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽู„ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณู’ูƒูŽู†ูŽุฉู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุบู’ู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุฏููˆู†ูŽ ุฎูŽู„ู‘ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุญูŽุงุฌูŽุชูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุณู’ูƒูŽู†ูŽุชูู‡ู

Setiap pemimpin yang menutup pintunya terhadap orang yang memiliki hajat, pengaduan, dan kemiskinan maka allah akan menutup pintu langit terhadap segala pengaduan, hajat dan kemiskinannya.

Kepemimpinan bukan saja menuntut kecerdasan otak dan kekuatan otot, melainkan juga harus ditunjang oleh rasa sensifitas yang tinggi terhadap persoalan-persoalan menyangkut rakyatnya. Sehingga apapun persoalan yang menimpa rakyatnya, maka pemimpin harus peka dan segera mencarikan solusinya. Di sinilah sebenarnya tugas pokok seorang pemimpin; yaitu mendengar keluh kesah rakyat untuk kemudian mencarikan jalan keluarnya.

Karena itulah, islam (melalui hadis di atas) memerintahkan seorang pemimpin untuk membuka pintu terhadap segala keluh kesah rakyatnya. Tentunya, yang dimaksud pintu disini bukan semata-mata berarti pintu rumah ataupun pintu istana, melainkan lebih dari itu yang sangat ditekankan adalah pintu hati atau nurani seorang pemimpin. Karena meski seorang pemimpin tinggal di istana megah dan berpagarkan besi dan baja, bila pintu hatinya terbuka untuk kepentingan rakayat, maka allah juga akan membukkaan “pintu hati-nya” untuk mendengar keluh kesah sang pemimpin itu.

Hadis ke 36

Pemimpin dilarang mengambil keputusan dalam keadaan emosional

ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุฃูŽุจููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุถู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุชูŽุญู’ูƒูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุบูŽุถู’ุจูŽุงู†ู ููŽุฅูู†ู‘ููŠ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ูƒูู…ู’ ุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุบูŽุถู’ุจูŽุงู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ ุตูŽุญููŠุญูŒ ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑูŽุฉูŽ ุงุณู’ู…ูู‡ู ู†ูููŽูŠู’ุนูŒ

Janganlah seorang pemimpin (hakim) itu menghukumi antara dua orang yang berseteru dalam keadaan marah (emosional)

Keputusan seorang presiden adalah dasar dari kebijakan sebuah negara. Begitu juga keputusan seorang pimpinan dalam sebuah organisasi adalah acuan dalam menjalankan roda organisasi. Oleh sebab itu, dalam mengambil keputusan atau mengeluarkan kebijakan, seorang pemimpin sebaiknya tidak sedang dalam keadaan “panas”, marah, atau emosional. Hal ini bukan saja ditentang oleh hadis nabi s.a.w melainkan juga dikutuk oleh teori manajemen organisasi. Dalam teori manajemen organisasi dijelaskan bahwa seseorang tidak boleh mengeluarkan atau membuat keputusan dalam keadaan marah atau emosi yang tidak stabil. Bila dipaksakan, maka keputusan itu dihasilakan dari sebuah proses yang kurang matang dan terburu-buru sehingga dampaknya akan sangat merugikan terhadap pelaksana keputusan tersebut.

Meski di dalam hadis ini yang disebutkan adalah hakim, namun secara substansial kita sepakat bahwa dalam keadaan emosi labil, siapapun orangnya, baik hakim, pemimpin, maupun orang awam sekalipun, sebaiknya tidak perlu mengambil keputusan. Banyangkan bila kita sedang bertengkar dengan istri di rumah misalkan, tetapi setelah di tiba di kantor kita disuguhi sebuah persoalan yang harus diputuskan, maka bisa jadi sisa-sisa emosional kita di rumah, secara sadar atau tidak, akan ikut terbawa hingga ke kantor dan mempengaruhi kita dalam memutuskan sebuah perkara. Oleh sebab itu, bila kita hendak mengambil keputusan maka terlebih dahulu kita harus mendinginkan suasana dan menengkan pikiran sehingga semua pertimbangan bisa kita akomodir secara seimbang dan matang.

Hadis ke 37

Hukuman bagi pemimpin yang suka money politic

Rasul s.a.w melaknat orang yang menyuap dan disuap.

Hadis ini sungguh sangat relevan untuk konteks indoensia saat ini, di mana dalam setiap unsur birokrasi kita hampir dipastikan tidak bisa lepas dari yang namanya “suap”. Mulai dari ngurus ktp di tingkat rt, hingga ngurus tender proyek infrastruktur di tingkat presiden, mulai dari pemilihan ketua rt hinhha pemilihan presiden. Semuanya tidak steril dari praktik suap-menyuap. Entah dari mana asal muasalnya, yang jelas praktik suap ini sudah diperingatkan oleh rasul. Itu artinya, sejak kepemimpinan rasul s.a.w, pratik suap ini sudah terjadi, dan rasul turun untuk memerangi pratik kotor ini.

Bila kita memaknai ancaman “laknat” bagi penyuap dan yang disuap sebagaiman hadis di atas, maka sebenarnya ancaman itu menunjukkan sebuah ancaman yang cukup berat. Karena bahasa laknat biasanya bukan hanya berarti hukuman tuhan di akhirat, melainkan juga terjadi di dunia. Kita lihat misalkan dalam kasus kaum sodom yang dilaknat tuhan dengan berbagai penyakit yang menyakitkan dan mematikan, demikian pula setelah di akhirat nanti mereka juga akan kembali dilaknat dengan lebih kejam. Oleh sebab itu, allah tidak akan bermain-main dengan praktik kotor yang menjijikkan ini.

Namun anehnya, banyak di antara orang yang tidak sadar kalau dirinya sudah disuap. Fenomena ini banyak kita temui ketika menjelang pemilu, misalkan seorang kiai/ulama pemimpin pesantren yang diberi (biasanya pakai bahasa disumbang) sejumlah dana oleh partai politik tertentu agar pesantrennya mau mendukung parpol yang bersangkutan. Sang kia sering tidak sadar (atau berpura-pura tidak sadar) bahwa dana sumbangan itu bisa dikategorikan, yang dalam bahasa politiknya, sebagai money politic. Memang praktik “sumbangan politik” ini tidak terlalu kentara sebagai suap, namun bila sebuah sumbangan itu dilandasi oleh kepentingan tetentu dan tuntutan tertentu, maka ia layak disebut suap. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana bila sumbangan dana itu tidak disertai tuntutan ? Memang dalam setiap sumbangan, terutama menjelang pemilu, kepentingan dan tuntutannya tidak mungkin dikatakan secara harfiyah atau gamblang. Bahkan bisa jadi seorang politisi pemberi sumbangan itu tidak langsung mneyebutkan kepentingannya dalam menyumbang. Akan tetapi, bila sumbangan itu turun sementara situasi saat itu adalah pemilu, maka sudah bisa dipastikan bahwa sumbangan itu adalah money politic. Oleh sebab itu, untuk menjaga kesyubhatan sebuah sumbangan, sebaiknya kita perlu melacak dulu asbabul wurudnya.

Hadis ke 39

Wajib berkata benar kepada pemimpin meski terasa pahit

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ู†ูุนูŽูŠู’ู…ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุงุตูู…ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฒูŽูŠู’ุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูู†ูŽุงุณูŒ ู„ูุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฏู’ุฎูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ูู†ูŽุง ููŽู†ูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฎูู„ูŽุงููŽ ู…ูŽุง ู†ูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ู ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุฑูŽุฌู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูู‡ูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุนูุฏู‘ูู‡ูŽุง ู†ูููŽุงู‚ู‹ุง

Ada serombongan orang yang berkata kepada ibnu umar; kalau kami bertemu dengan para pemimpin kami maka kami pasti mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang kami katakan bila tidak bertemu dengan mereka (pemimpin). Ibnu umar berkata: hal itu kami anggap sebagai sebuah sikap munafik. (hr. Bukhori)

Ada satu tradisi buruk yang sering kita lakukan ketika kita menghadap pimpinan, yaitu, selalu mengatakan yang baik-baik, yang senang-senang, dan yang sukses-sukses. Tradisi ini bukan saja dilakukan oleh para menteri ketika menghadap presiden, melainkan tidak jarang juga dilakukan oleh rakyat biasa. Jelas, kalu menteri melakukan tradisi buruk itu dengan tujuan menjilat dan mengharap pujian dari sang pemimpin (presiden). Tapi yang tidak bisa kita fahami ternyata tidak sedikit rakyat biasa juga melakukan praktik buruk tersebut. Memang, bila rakyat biasa tidak separah sebagaiman dilakukan menteri, akan tetapi sebuah sikap berdiam diri ketika berhadapan dengan pemimpin adalah sebuah sikap yang oleh hadis di atas bisa dikategorikan sebagai “munafik”. Padahal, bila kita bertemu pemimpin kita, misalkan kita mendapat kesempatan bertemu langsung dengan presiden kita, maka harus kita manfaatkan waktu pertemuan itu untuk mnegatakan yang sebenarnya tentang situasi atau kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Di hadapan pemimpin itulah justru sebuah kesempatan untuk mengatakan bahwa, misalnya, rakyat sedang kekuranagn pangan, rakyat butuh pendidikan gratis, rakyat butuh harga murah, dsb. Bila pemimpin yang bersangkutan marah dan mengancaman sikap tegas kita, maka kita jangan sekali-kali mundur, karena itu adalah kenyataan yang sebenarnya. Dan membohongi kenyataan adalah sama dosanya dengan berbuat munafik. Oleh sebab itu, hadis ini sangat relevan dengan situasi indoensia saat ini yang banyak diwarnai oleh sikap kepura-puraan dalam berperilaku dan berkomunikasi dengan pimpinan.

Hadis ke 40

Sikap dengki pemimpin sangat membahayakan

Muadz berkata: rasul s.a.w mengutusku pergi ke yaman. Ketika aku berangkat kemudian rasul menyuruh orang untuk memanggilku pulang kembali. Kemudian beliau berkata: tahukah engkau kenapa aku memanggilmu kembali ? Yaitu agar engkau tidak terjerumus pada sesuatu yang tidak aku perbolehkan, yakni sifat dengki, karena siapa yang dengki, maka kedengkiannya itu akan datang kepadanya hari kiamat. Dengan maksud itulah aku memanggilmu, ingat itu…! Sekarang kembalilah kamu ke wilayah kekuasaanmu.

Hadis ini turun ketika rasul s.a.w telah mengutus mu’adz bin jabal untuk menjadi gubernur di negeri yaman. Sebagaimana diceritakan dalam hadis di atas, bahwa kepentingan rasul untuk sejenak memanggil pulang kembali mu’adz adalah untuk menasehati dia agar menghindari sikap dengki, karena sikap itu akan menjerumuskan dia ke jurang kesesatan. Mungkin kita tidak pernah berfikir bahwa sikap dengki itu cukup berbahaya. Padahal dari sikap yang seolah remeh tersebut, bisa melahirkan sebuah sikap yang dampaknya jauh lebih berbahaya dari sekedar dengki, terutama bila dikaitkan dengan masalah kepemimpinan.

Bila seorang pemimpin selalu dihinggapi rasa dengki, maka jangan harap kepemimpinannya akan sukses. Namun tentu yang dimaksud dengki di sini bukan sekedar bermakna iri hati atau cemburu, akan tetapi sebuah sikap ketidak puasan seotang pemimpin atas kekuasaan yang dipegangnya. Padahal, seorang pemimpin sudah diberi “kekuasaan”, diberi fasilitas, di beri kehormatan, namun tidak sedikit masih banyak pemimpin yang merasa kurang dan kurang lagi atas jabatan, kehormatan, status, harta, dan kakuasaan. Bila seorang pemimpin tidak mampu menahan nafsu semacam ini, maka jangan harap kepemimpinanya serta rakyat yang dipimpinnya akan hidup dengan sejahtera. Oleh sebab itu, meski rasa dengki adalah masalah biasa , namun dampak negatifnya menjadi luar biasa.




View all comments

Write a comment